Mengenal Quarter Life Crisis Melalui Buku “Melelahkan, Tapi Semua Demi Masa Depan”
Ketika pertama kali membaca judul buku ini dan akhirnya memutuskan untuk membeli dengan alasan utamanya adalah kata “Demi Masa Depan” pada sampul yang begitu sulit ditolak. Siapa sangka, kita seringkali mengeluhkan lelah menghadapi proses-proses yang harus dilalui untuk menuju masa depan. Tidak jarang, kita terjebak pada satu pola yang salah sehingga mengurung kita tanpa bisa bergerak ke arah yang kita inginkan.
Saat ini kita sedang berada pada fase dimana manusia berlomba untuk menjadi yang tercepat. Perkembangan dunia yang semakin canggih memicu krisis yang dialami manusia. Namun, nyatanya sejak dulu sekalipun, kita memang dihadapkan dengan krisis-krisis tersebut. Salah satunya adalah krisis seperempat baya atau lebih di kenal dengan quarter life crisis. Masa ini menjadikan seorang menjadi penuh kebimbangan dan ketidakpastian. Tidak berhenti di sini, muncul perasaan terjebak, kehilangan motivasi, kekecewaan, kecemasan, memicu krisis ini semakin menjadi-jadi.
Lalu apa hubungannya dengan buku ini? Iya, buku ini berisi tentang fase ini. Melelahkan, Tapi Semua Demi Masa Depan merupakan buku non-fiksi yang membawa kita menuju kesadaran, yakni menyadari bahwa fase ini memang ada, wajar, dan kita tidak sendirian. Fase transisi dari remaja ke dewasa, dari fase pendidikan menuju dunia kerja menjadi momentum yang penuh gejolak. Sebagaimana salah satu bahasan di buku ini, menjadi dewasa itu menyenangkan sekaligus sulit, banyak mimpi, rancangan masa depan, bertemu orang baru, menggali pengalaman baru, serta mencoba peran baru. Tapi jangan lupa, ada tantangan, stress, kekhawatiran, dan tanggung jawab baru yang harus dipegang.
Kamu merasa ada di fase ini? Tenang, kamu tidak sendiri. Quarter life crisis memang menjadi fase yang tidak mudah dan melelahkan untuk dijalani, tapi benarkah itu selalu buruk? Tentu tidak, R.D Asti (penulis buku ini) berkata “Bagaimanapun sulitnya masa-masa quarter life crisis, ini akan membantumu menemukan jati diri dan kejelasan masa depanmu?” (hlm. 34). Banyak hal positif yang bisa dilakukan untuk menghadapi fase ini, seperti menyadari bahwa itu normal, beri waktu diri sendiri untuk berpikir, menemukan cara untuk meredakan kesepian, mengkomunikasikan pikiran dan tujuanmu, pahami bahwa gelar atau pekerjaan tidak mendefinisikanmu, jangan takut akan perubahan, dan jadilah penentu untuk dirimu sendiri.
Tapi, kalau menbahas buku ini dan fase quarter life crisis, poin penting yang seringkali saya temukan dalam bacaan non-fiksi dengan tema terkait adalah adanya kaitan fase ini dengan kebiasaan overthinking juga perkembangan zaman. Overthinking atau kondisi pikiran berlebih membuat kita tidak fokus pada realita yang terjadi dan justru hanyut dalam pikiran negatif hingga puncaknya muncul kegelisahan dan kecemasan yang sejatinya belum tentu terjadi. Maka tidak heran jika buku ini menyebut overthinking sebagai bahan bakar quarter life crisis.
Lalu apa hubungannya dengan perkembangan zaman? Yaa ada dong. Coba saja kita sadari dan sedikit peka, salah satu produk perkembangan zaman dan teknologi adalah media masa dan media sosial. Informasi tersebar begitu mudah, begitu juga gaya hidup yang terus menerus mengalami peningkatan dan perubahan. Bagi mereka yang sedang mengalami krisis seperempat baya, media sosial bisa memicu krisis ini menjadi setingkat lebih tinggi. Kita akan terbiasa mengikuti pola dan gaya hidup yang dimunculkan di dalamnya, sedangkan belum tentu kita bisa mengejarnya. Melihat pencapaian orang lain yang sebenarnya tidak semulus itu menimbulkan iri dengki. Tidak hanya berhenti di situ, muncul pula perasaan tertinggal dari dunia di luar sana. Sedangkan dunia terus bergerak kita malah terjebak meratap diri kita yang tertinggal tanpa melakukan perubahan.
Lantas, bagaimana jika berada pada fase ini? Yaaaa, kita bisa mengurangi dampak negatifnya dengan menumbuhkan sikap dan pemikiran positif dalam setiap prosesnya. Salah satu kutipan yang penuh makna bagi saya pribadi dalam buku ini ada dua, pertama, “Jangan fokus pada bagaimana peringkatmu dibandingkan dengan orang lain-hidup bukanlah sebuah kompetisi, melainkan sebuah perjalanan,” (hlm. 185). Kedua, “Padahal, “mengharuskan” diri dalam setiap aspek kehidupan hanya memberikan satu label kuat dalam pikiran; kita tidak bisa dipercaya oleh diri sendiri,” (hlm. 192).
Keduanya menjadi solusi untuk menghadapi fase ini, berhenti membandingkan diri dengan orang lain, karena itu akan sangat melelahkan serta tidak perlu mengharuskan diri untuk mencapai segala sesuatu dengan penekanan pada diri sendiri, karena itu bukti ketidakpercayaan diri. Fokus pada diri dan hal yang benar kita inginkan, bukan semata karena tuntutan dan diharuskan. Jika ini tidak cukup untukmu, maka tidak ada salahnya membaca buku ini, kamu akan mendapat tips dan solusi menghadapi persoalan terkait quarter life crisis yang kamu alami. (dr)

Komentar
Posting Komentar